
Lima hari yang lalu tepatnya tanggal 13 february 2019 di salah satu diskusi
grup WhatsApp saya, yang sedang membahas tentang guru pembaharu. Nah, salah
satu pembahasannya tentang “Guru Harus tahu Perkembangan Peserta Didik Dirumah
dan Diluar Sekolah”.
Pada sesi pembahasan tersebut salah seorang dosen bercuit tentang
bahwasanya sebagai calon seorang guru nantinya kami dituntut harus mampu
melihat perkembangan peserta didik, dengan maksud agar nantinya lahir guru-guru
pembaharu bagi para siswanya dan juga tentunya mengerti dengan kondisi
perkembangan siswa tersebut.
Dari cuitan tersebut saya merasa tidak setuju tentang apa yang
dibahas, saya pikir masa sih, saya nantinya yang katanya bakal jadi calon guru—karena saya berkuliah dibidang pendidikan vokasi. Harus mampu melihat perkembangan para siswanya dirumah maupun diluar sekolah,
apa iya tugas guru seribet seperti itu tanya dalam benak saya. Nah, karena rasa
penasaran, saya pun ingin mendapatkan penjelasan dari dosen tersebut.
Seperti inilah pertanyaan yang saya ajukan:
![]() |
| Sumber foto diambil di facebook salah satu dosen, dari chat grup yang capture. |
Nah, tak lama kemudian saya diberikan penjelasan terkait dengan
yang saya tanyakan, karena kebetulan didalam grup terdapat dua orang dosen,
jadi saya serasa dikroyok, hehe. Tetapi tidak apa-apa demi ilmu pengetahuan. Seperti
ini penjelasannya:






Setelah
saya dapat penjelasan terkait dengan kenapa guru harus paham dengan
perkembangan murid baik dirumah maupun diluar sekolah, saya tidak lupa pula untuk
mengucapkan terima kasih.

Ada alasan mengapa saya kurang setuju dengan dosen saya terkait
dengan guru harus mangetahui perkembangan siswa dirumah maupun disekolah,
karena dari beberapa artikel atau bahkan vidio—di channel youtube—yang saya tonton mengenai pendidikan, bahwasanya pendidikan di indonesia itu tertinggal
128 tahun dari negara-negara maju.
Dan bahkan menurut
Alfie Kohn salah satu penulis buku tentang pendidikan mengatakan bahwasanya
menjadi guru bukan tentang apa yang diajarkan, tapi apa yang mereka pelajari,
dan untuk mendapatkan pembelajaran yang benar siswa harus punya pilihan tentang
apa yang dipelajari dan proses untuk mempelajarinya. Nah, untuk indonesia yang
ingin mengejar ketertinggalannya maka pendidikan di indonesia harus fokus pada
pembelajaran tersebut.
Dan juga disalah
satu buku karangan pramodya ananta toer ia bilang bahwasanya kaum terpelajar
dari bangsa jajahan harus tahu kewajiban dan mengetahui kebutuhan negeri dan
bangsanya sendiri.
Nah, karena kita
harus mengetahui apa kebutuhan kita, kita harus mencari tahu dan terus-menurus
menemukan kesalahan-kesalahan apa yang kita dapat khususnya dalam proses
belajar, sehingga nantinya ketika kita sudah mengetahui kesalahan-kesalahan
tersebut tentu saja kita tidak akan mengulanginya. Sayangnya proses belajar
seperti ini tidak semua orang ingin melakukannya, dan hanya mau yang instan.
Mungkin memang
kejam jika melihat kenyataan tetapi inilah adanya, kita harus mengakui bahwasanya
kita tertinggal dalam bidang pendidikan, dan bahkan juga moral. Coba kita lihat
siswa zaman sekarang ada banyak sekali berita tentang penganiayaan guru, dan
bahkan memperlihatkan akhlak serta moral yang terbilang sangat kurang ajar dari
siswa tersebut. Kalo begini siapa yang disalahkan apa iya juga guru.
Apa iya harus sedetail
itu guru harus tahu perkembangan siswanya, di indonesia sendiri ada banyak
sekali guru tapi jika dibilang dari segi kualitasnya, saya rasa belum. Bahkan dalam
Uji Kompetensi Guru (UKG) yang diprogramkan oleh Kementrian Pendidikan dan
Kebudayaan (Kemdikbud) mencatat bahwasanya guru di indonesia tidak mampu
memenuhi target nilai yang telah di tetapkan. Tentu saja ini bisa jadi acuan
dari kita menilai kualitas guru di indonesia.
Menurut saya
pribadi jikalau dirumah orang tua-lah yang bertanggung jawab sepenuhnya
terhadap proses belajarnya khususnya pendidikan moral. Nah, dan juga siswa
tersebut harus memahami dirinya sendiri terkait tentang ketertarikan bidang apa
yang ingin dia pelajari, tentu saja ini masih peran orang tua untuk membimbing.
Dan mantinya ketika
siswa sudah tahu tentang keterkaitan apa yang ingin dia pelajari barulah guru
dapat membimbing siswa tersebut dengan baik dan benar, seperti yang dijelaskan
oleh dosen saya dari pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan juga
silabus. Setelah diberi arahan siswa sendirilah yang bertanggung jawab atas
ilmu yang telah dipelajarinya di sekolah serta mengembangkannya.
Jadi intinya kalo seorang guru harus tahu perkembangan
siswanya baik dirumah maupun diluar sekolah, menurut saya itu tergantung. Kenapa
tergantung? Yah, jikalau gurunya ingin tahu perkembangannya otomatis guru harus
bekerja lebih agar nantinya guru tidak salah kaprah terhadap perkembangan
murid-muridnya disekolah. Yang jadi pertanyaan saya adakah guru yang mau
seperti itu?. Jika melihat kenyataan dari gaji guru sekarang, apakah calon-calon guru pembaharu mau melakukannya saya rasa tidak.
=====================================================================
Sumber rujukan:
http://padangkita.com/sistem-pendidikan-indonesia-tertinggal-128-tahun-dari-negara-maju/
https://news.okezone.com/read/2015/12/30/65/1277618/rata-rata-nilai-ukg-di-bawah-standar
https://www.youtube.com/watch?v=7oztFMgK0jQ&t=337s
Ananta Toer, Prmoedya, 2006, Anak Semua Bangsa, Lentera Dipantara, Jakarta Timur.




0 komentar: