Saturday, October 10, 2020

Awal dari Perjalanan Panjang Penuh Lika - Liku

Tepat tanggal 1 oktober kemarin, bertepatan dengan terbentuknya Forum Mahasiswa Mesin Indonesia (FMMI) saya melangsungkan ujian skripsi. Penuh perjuangan? tentu saja, karena situasi sebelum dimulainya ujian awan hitam sudah mulai mendominasi dan menutup langit hingga gelap.

Walau ramalan cuaca pada smartphone kadang tidak tepat, namun insting saya mengatakan hujan akan lebat siang ini, dan apa yang terjadi tentu saja hujan lebat mengguyur kota padang hingga malam hari. Apakah saya gentar? tentu tidak, karena ujian tetap harus berlangsung karena ini merupakan penantian panjang yang saya tunggu.

Tepat satu jam sebelum dimulainya ujian berasama seorang teman yang membantu, saya beranjak dari kamar kos berangkat menuju kampus dengan dirundung hujan lebat.

Setiba dikampus langsung menuju ruang administrasi jurusan untuk meminjam kunci dan segala perlengakapan untuk presentasi. Menata ruangan, menyiapkan proyektor, menata snack dll. Kurang lebih 10 menit sebelum waktu dimulai, sempat deg-degan karena penguji dan pembimbing belum juga terlihat namun saya masih tetap coba menenangkan diri karena kondisi memang diluar kendali.

Akhirnya sidang dimulai setengah jam lebih lama dari jadwal yang telah ditentukan, dihujani berbagai macam pertanyaan terkait dengan skripsi yang ditulis, Alhamdulillah semua terjawab dengan yakin. Tak terasa sudah lebih 2,5 jam didalam ruangan dan akhrinya saya dinyatakan lulus.

Teruntuk kedua orang tua, terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan hingga akhirnya dapat menyandang gelar sarjana. Walau berat karena ibu sempat sakit hingga menguras mental, tenaga serta pikiran namun dengan perjuangan akhirnya, tiba masa untuk sidang akhir juga. Semasa hidup mungkin tak banyak prestasi yang diri ini dapatkan, malah bisa dikatan hanya menyusahkan. Namun, izinkan diri mempersembahkan gelar ini untuk menorehkan senyum bangga bahagia diraut wajah kalian.

Teruntuk teman-teman yang telah membantu serta sempat hadir usai sidang, saya ucapkan terima kasih, semoga kesuksesan menyertai kita dan tentunya bermanfaat bagi diri sendiri dan bagi orang lain. Ini bukanlah akhir ini adalah awal menuju perjalanan panjang penuh lika-liku yang disebut dengan Kehidupan.

Sunday, May 3, 2020

Gak Enaknya Jadi Mahasiswa Tingkat Akhir Ditengah Pandemi


Tentu saja tidak bisa dipungkiri ditengah pandemi ada sejuta harap membentang bagi mahasiswa tingkat akhir. Dimulai dari lancar bimbingan skripsi/tugas akhir, penelitian, ujian akhir hingga sampai dengan proses yudisium. Tapi semua harap runtuh seketika ketika negara api pandemi menyerang.

Yang tadi rencana, strategi yang telah disusun dengan matang semua buyar hilang ditelan hiruk pikuk ketakutan akibat wabah pandemi.

Semua hanya bisa pasrah, sabar, serta ikhtiar untuk menerima kenyataan. Kenyataan yang belum ada apa-apanya dibandingkan kenyataan setelah yudisium, yang ternyata ijazah S-1 masih belum cukup dan tidak ada apa-apanya. Terdengar sedikit pesimis mungkin, tapi ini lah adanya.

Didalam kesusahan pasti selalu saja ada kemudahan, dan benar saja berbagai kemudahan-kemudahan datang, seperti diberikannya subsidi kuota data internet, bimbingan, seminar, ujian via daring, dan atau bahkan ditiadakannya skripsi yang diganti dengan review/publish jurnal.

Tapi tentu saja kemudahan-kemudahan yang diberikan membikin diri menjadi terlalu nyaman, tentu harus ada usahanya juga dong, masa iya sudah diberikan kemudahan masih males-malesan ngerjain skripsinya. Sudah diberikan pisang satu tandan malah minta dibikinin kolak pisang, haduuh.

Menjadi mahasiswa tingkat akhir ditengah pandemi sendiri merupakan sebuah bentuk survival yang memiliki tantangan tersendiri. Bagaimana tidak, ada sebagian mahasiswa yang masih terjebak di kosan dan dilarang pulang kampung, sudah jatuh tertimpa tangga pula, sungguh berat perjuangan. Aapalagi ditambah sedang menjalankan ibadah puasa, tentu rasa kangen tak tertahankan untuk keluarga besar dirumah apa lagi masakan ibu, huh, sungguh sulit dibayangkan.

Namun meski demikian saya tetap bersyukur karena masih bisa merasakan kehangatan menjalani puasa dirumah bersama keluarga. Karena beberapa waktu yang lewat telah menyelesaikan magang internship disalah satu perusahaan tempat saya tinggal.

Yah, apa mau dikata semua tetap harus dijalani. Walaupun terhambatnya penelitian, bimbingan, ujian serta yudisium di tahun ini, semua musti patut disyukuri dan terima dengan lapang dada.

Semoga untuk kedepan wabah cepat berlalu dan semua berjalan normal kembali. Hingga nantinya semua target, rencana, dan segala bentuk harap-harap yang gagal dapat segera terpenuhi. 

Monday, April 27, 2020

Kalau bisa beli sendiri kenapa harus debeliin?


Beberapa waktu yang lewat pemerintah telah mewacanakan program baru bagi masyarakat indonesia yang tidak memiliki pekerjaan tetap yakni sebuah kartu yang beriisi uang, ya uang anda tidak salah dengar. Tentu ini sebuah kabar bahagia bagi penduduk indonesia termasuk saya yang ngarap-ngarap juga.

Program ini juga sempat menjadi perbincangan hangat bagi sebagian besar masyarakat, namun yang menjadi pertanyaan besar bagaimana cara pemerintah membayar gaji pengangguran sedangkan hutang negara sendiri malah bartambah banyak. Tentu saja tak habis pikir dibuatnya.

Namun sebagai warga negara yang baik tentu saja saya harus tetap berpikir positif dan turut mendukung program ini dengan semestinya. Tentu saja ini menjadi kabar bahagia untuk kita semua —jangan sambil nyanyi— yang memiliki budget minim untuk berhujat. Eh, maksud saya minim quota.

Ternyata wacana tersebut bukanlah bualan belaka karena kemarin telah launchingnya situs prakerja pemerintah yang digadang-gadangkan. Semua media baik berita di tv, maupun daring terus mempromosikan program tersebut.

Masyarakat tentu saja Antusias dan berharap untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik lagi, apalagi pengangguran millenial. 

Bak kuaci dibelah isinya zonk, ternyata dana bantuan yang diberikan bagi para pengganguran yang digadang-gadangkan tak bisa dicairkan dan hanya sebatas voucher, dan hanya bisa digunakan untuk membeli kursus yang telah disediakan pemerintah. Tentu ini masuk akal juga mengingat nantinya uang akan disalahgunakan dan tidak digunakan dengan semestinya.

Tetapi yang tidak masuk akal harga kursus online yang ditawarkan pemerintah lebih mahal dari tempat penyedia kursus berbasis daring lain. Coba dicek diwebsite sebelah sperti udemy, fiverr learn, coursera dan macam-mcam online course lainnya, harga yang ditawarkan relatif lebih murah dibanding harga yang pemerintah tawarkan.

Apalagi ditengah pandemi ini semua orang atau bahkan hampir diseluruh belahan dunia menerapkan sistem work form home, dan mengingat ekonomi juga sedang sulit. Tentu ini bisa jadi ajang perlombaan bagi para penyedia kursus online untuk memberikan harga terbaik.

Tetapi apa mau dikata ini lah pemerintah, sudah sewajarnya kita mau tak mau harus memaklumi pemikiran elit-elit kuasa yang ternyata  pengertian 4.0 bagi mereka hanya sedangkal itu. Jika pemerintah memberikan bantuan dana prakerja berbentuk voucher dengan harga kursus selangit, kenapa harus dibelikan, kalo beli sendiri dengan harga jauh lebih murah.

Saya berharap semoga pemerintah lebih bijaksana lagi dalam merencanakan program dan menggolontarkan dana yang tidak sedikit tersebut. Tentu nantinya dana anggaran tersebut dapat disimpan untuk membayar hutang negara syukur-syukur juga kalau bisa dapat membantu memberikan bantuan sembako bagi masyarakat yang membutuhkan agar lebih merata di tengah wabah pandemi ini, dari pada membuang-buang uang untuk hal yang saya rasa hanya sia-sia.

Thursday, January 9, 2020

Dijatuhkan Sebelum Meninggi

Dijatuhkan Sebelum Meninggi
Kemarin senin merupakan hari yang saya tunggu-tunggu. Setelah segala persiapan dan bahkan rela tak pulang ke kampung halaman. Akhirnya saya di acc seminar oleh dosen pembimbing setelah beberapa kali menghabiskan ratusan kertas.

Ada sebagian drama yang mungkin terdengar pelik. Baik dari dosen pembimbing mau pun dari dosen peninjau. Untuk dosen pembimbing, okelah aman, karena sudah sering bertemu. Dosen peninjau, nah ini yang tak habis fikir dan membuat saya sedikit kesal.

Jadi hari dimana saya melangsungkan seminar proposal dosen peninjau A tak datang dikarenakan ada rapat. Dosen pembimbing dan dosen peninjau B tetap datang, walau dosbing masuk sebentar dan kemudian keluar. Sebagai gantinya dosen peninjau B tetap didalam.

Singkat cerita seminar berakhir tepat pukul 11.15, setelah berbagai macam kendala yang telah saya lalui. Tak lama 20 menit setelahnya dosen peninjau A telah selesai juga dengan rapatnya. Berniat langsung ingin menemui beliau namun saya urungkan karena waktu sudah terlalu mepet dengan istirahat. Akhirnya saya putusakan setelah isoma (Istirahat, Solat, Makan).

Nah, penghakiman dimulai setelah saya memasuki ruanga beliau, aura intimidasi mulai terasa mencekam memenuhi seluruh ruangan. Ketika beliau memulai berbicara dan mengajukan beberapa pertanyaan terkait skripsi, diawal masih bisa terjawab oleh saya namun lambat laun saya merasa berada disebuah roller coaster yang membikin kepala berputar-putar. Ntah, saya yang lelah emosi dan mental karena seminar sebelumnya atau emang saya yang agak sedikit bodoh. Saya harap mungkin tidak pada opsi kedua, hehe~

Hingga akhirnya kurang lebih selama satu jam saya berada di dalam ruangan, setelah keluar saya bingung apa yang sebenarnya yang dibacarakan didalam barusan. Setan alas memang, hingga saya pulang ke kosan hanya satu yang saya rasakan kesal membatin.

Sempat bertanya - tanya pada diri sendiri apa yang sebenarnya terjadi, hingga pada akhirnya satu kesimpulan yang saya ambil "Menjatuhkan seseorang merupakan kenikmatan bagi pecundang berpangkat agar dapat merasa tinggi".

Wednesday, September 25, 2019

Berdemonstrasi


Menurut peraturan UU No 9 Tahun 1998 pada Pasal 28 yang berbunyi:

"Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan Undang-undang."

Dan bentuk kegiatan berdemonstrasi dapat dituangkan melalui lisan, tulisan, dan sebagiannya secara demonstratif di muka umum.[1]

Akhir-akhir ini masyarakat indonesia sedang viral dan heboh terkait dengan tersiar kabarnya Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) dan revisi Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi (UU KPK) yang membuat masyarakat baik offline/online, wibu, kpopers, introvert, kutu buku dan hingga para mahasiswa aktivis kampus yang geram geleng-geleng kepala. 

Kenapa Demikian?

Karena isi dari rancangan serta revisi dari UU tersebut yang dinilai sangat tak logis dan bahkan bertentangan dengan kaidah atau aturan dari dasar Negara Indonesia yang demokratis dan bahkan juga penindasan terhadap kaum perempuan indonesia.

Salah satu isi dari UU tersebut yakni pada draf RKUHP yang tercantun dalam Pasal 218-2020 tentang penghinaan terhadap presiden.[2]

Pada RKUHP terhadap hukuman pada orang yang menghina presiden membuat saya geleng-geleng kapala. Apa benar mengkirtisi presiden sampai-sampai harus dibui? Tentu saja ini bertentangan dengan dasar negara Demokrasi yang terbuka untuk terbuka menyampaikan pendapat dan kritik. Lah, gimana kalau dia baper? Yang tadi niatnya untuk mengkiritik agar beliau sadar dan ingat atas kesalahan yang dibuat, malah harus di bui karena tak tahan menerima kritik dari rakyatnya. Jika ini bakal memang disahkan, maka matilah Demokrasi.

Saya sebagai mahasiswa turun kejalan melakukan demonstrasi bersama kawan-kawan dari Universitas se-Kota Padang untuk berdemonstrasi serta menanyakan dan membawa aspirasi rakyat terhadap kebijakan nyeleneh dan diluar ambang batas dasar negara Demokrasi.

Tepat pukul 10:00 WIB sesuai yang dijanjikan mahasiswa masing-masing kampus di Sumatera Barat bergegas menuju kantor DPRD untuk berdemonstrasi. Massa sudah mulai ramai, berjalan memadati ruas jalan menju tempat dengan menggunakan almamater kebanggan kampus masing-masing. Dan[pada jam 11:00 WIB massa sudah mulai memasuki kantor DPRD untuk aksi demonstrasi.[3]

Dan jujur ini baru kali kedua saya ikut aksi demo, ntah apa yang membuat hati ini menjadi tergerak. Walaupun saya datang terlambat karena ada tanggung jawab yang harus lebih dahulu diselesaikan. Sesampainya saya dilokasi massa satu persatu sudah mulai meninggalkan tempat. Tetapi dilokasi tetap ramai. Memasuki lingkungan kantor, saya menyerobot masuk dari kumpulan rekan-rekan mahasiswa untuk masuk kedalam ruangan DPRD. Iya, kantor sudah berhasil disita mahasiswa. Setelah masuk dan melihat dengan seksama saya melihat banyak sekali orang rekan-rekan mahasiswa dari mulai duduk dikursi hingga berdisi diatas meja sambil menyanyikan yang mungkin indonesia raya. Suasana panas dan pengap karena kapasitas ruangan berlebih.

Sempat saya dokumentasikan saat saya berada didalam ruangan, namun hanya sedikit yang bisa karena mengingat kapasitas penyimpanan telepon genggam saya yang tak kondusif.


Saya kecewa dengan demonstrasi hari ini, bukan karena saya datang terlambat, tapi karena kondisi demonstran yang tak lagi kondusif karena sudah mulai agresif dan anarkis. Sempat saya bertanya kepada rekan-rekan demonstran terkait dengan kebijakan dan tuntutan kita pada hari ini apakah dipenuhi. Ternyata tuntutan dari mahasiswa sudah dipenuhi oleh salah satu Wakil Dewan, malahan tuntutan sudah ditanda tangani dan langsung dikirim via pos dan menunjukkan bukti pengiriman kepada para demonstran.

Saya pikir karena tuntutan sudah dipenuhi rekan-rekan demonstran bubar dan meninggalkan lokasi, tapi apa yang terjadi mereka masuk kedalam kantor dan membuat rusuh dan anarkis, barang-barang dihancurkan, vandalisme, dan sebagiannya. Setelah mendapat jawaban tersebut dan sebelumnya sudah menanyakan ke beberapa kawan-kawan demonstran untuk kejelasan informasi agar valid, setelah didapat saya pulang dengan penuh kekecewaan.

Tuntutan sudah terpenuhi hasil tinggal menunggu. Jika tak puas dengan hasil mari diulang kembali orasi, ini tidak, malah membuat anarkis dengan penuh rasa percaya diri dan bangga.

Saya mendukung penuh untuk berdemonstrasi jika itu menuntut keadilan, menunutut aspirasi, dah hak-hak yang dirasa tak terpenuhi kepada pemerintah, tapi tidak pada anarkis. Bukannya diri ini sok suci, tapi dipikir dengan logika dan akal sehat tuntutan sudah terpenuhi dan bahkan dikirim langsung, lantas apalagi? Kenapa hati masih saja ada yang kurang, apakah demonstrasi selalu berujung anarkis dan berujung perusakan fasilitas, entahlah, mungkin kita sendiri yang dapat menilai.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Refrensi:
[1]https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt5837954be4c7a/ini-demo-demo-yang-dilarang#_ftn2
[2]https://tirto.id/daftar-pasal-kontroversial-dan-bermasalah-dalam-rkuhp-eiED
[3]Instagram: InfoSumbar

Tuesday, September 17, 2019

Setelah Ini Apalagi?


Setiap tahun baik di universitas negeri maupun swasta pasti selalu melaksanakan acara-acara besar dan salah satunya yaitu wisudah. Wisudah merupakan momen yang paling dinanti setiap mahasiswa tingkat akhir untuk menyelesaikan studinya.

Acara ini diadakan bahkan hingga sampai 4 kali yakni pada bulan maret, juli. september dan desember. Tentunya tidak selalu pada bulan-bulan tersebut, setiap kampus punya jadwalnya tersendiri. Namun di antara jadwal tersebut hanya pada bulan-bulan tertentu saja yang ramai, yakni pada bulan maret dan september, kenapa? karena merupakan jadwal akitf kuliah civitas akademika.

Nah, bertepatan dengan bulan september ini, di kampus saya sedang melaksanakan acara wisudah yang terbagi menjadi 3 hari yakni sabtu s/d senin. Dan khusus untuk wisudawan fakultas teknik dilaksanakan pada hari sabtu.

Dimanapun kampusnya fakultas teknik selalu ramai pada acara wisudah. Kekompakan, kekeluargaan sangat erat di sini karena itu lah wisudawan di arak secara heboh. Kehebohan tersebut mengundang simpatisan dari pihak keluarga wisudah yang datang. Mereka berbaris melihat arak-arakan yang dilaksanakan mahasiswa fakultas teknik. Ada yang merekam, berselfie ria dan juga melihat diam sambil menikmati arak-arakan.

Terkesan heboh, sudah pasti. Rusuh, jelas tidak. Karena ini merupakan arak-arakan kebahagiaan atas pencapaian setelah lelah berjuang dari skripsian hingga mencapai puncak penghargaan yakni diwisudah.

Ada pepatah mengatakan  Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Ntah lah, siapa nama pepatah yang mencentuskan ini tapi yang jelas bagi sebagian orang ada yang setuju dengan perihal tersebut.

Namun salah satu penulis buku Rolf Dobelli dalam bukunya yang berjudul The Art of Thinking Celarly yang mengatakan bahwasanya mindset tersebut merupakan bias pikiran yang buruk, karena kenapa? apa iya setiap kebahagiaan harus selalu dilewati keburukan dulu? Tapi ntahlah, kita semua dapat menilainya sendiri.

Tapi yang jelas pada momen wisudah ini kita pasti setuju dengan kata pepatah. Eh, tapi ada baiknya perlu diingat setelah datang kebahagiaan akan ada fase dimana kita bingung atau bahkan stuck dan berpikiran, setelah ini ngapain lagi?.

Setelah ini Apalagi? Tentunya ini merupakan pilihan hidup pribadi. Ada banyak opsi yang dapat dipilih, ntah itu menikah dulu baru kerja atau sebaliknya, bebisni, lanjut S2 atau bahkan nge-ojol. Namun yang pelan tapi pasti, fase ini akan datang dan hingga kondisi membuat diri harus segera memilih.

Saya pribadi ingin mengucapkan selamat atas gelar sarjananya para wisudawan/ti. Semoga dengan ilmu yang dituntut dapat membuat akal pikiran tidak mati setelah ini. Karena ijazah merupakan bukti bahwa diri pribadi pernah sekolah, tapi tidak untuk berpikir. Do'akan saya menyusul tahun depan. Setelah ini apalagi? Saya harap pribadi sudah memilih.


Sunday, June 2, 2019

Solo Mudik Lewat Jalur Lintas Sumatera


Celoteh Febry - Tepat 1 minggu yang lalu saya melakukan solo mudik dari padang menuju kampung halaman saya yakni tepatnya di jambi – lebih tepatnya sih, di kabupaten Batang Hari. Mudik kali ini sama seperti tahun-tahun sebelumnya saya menggunakan kendaraan roda dua kesayangan saya yang bernama sceepy – plesetan dari scoopy.

Berangkat jam 5:30 pagi atau lebih tepatnya setelah shalat subuh. Sebelumnya packing-packing sudah saya persiapkan dimalam hari. Semua saya persiapkan, apa pun itu perihal yang bersangkutan salama di perjalanan. Mulai dari hal-hal yang paling perioritas hingga barang pelengkap untuk sebagai penunjang selama diperjalanan.

Kurang lebih sekitar 10 jam perjalanan dari kota padang menuju kampung halaman. Lumayan menguras tenaga juga karena ketika siang hari jalanan terasa sangat panas sekali, ditambah juga dengan terik mata hari siang pada saat itu sedang indah-indahnya, duh, rasanya ingin saja tidur siang dikosan.

Mudik juga terasa lebih berat karena pada saat mudik saya tetap menjalankan ibadah puasa. Yah, walaupun katanya boleh tidak berpuasa selama di perjalanan. Tapi tetap niat dihati kuat untuk menjalankan puasa.

Demi tetap menjalankan ibadah puasa dan juga demi bertemu dengan keluarga tercinta dirumah. Apapun keadaannya itu saya harus tetap mudik dan tentunya beribadah, karena keluarga adalah harta yang paling berharga dan juga mengejar berkah serta ridho dari yang maha kuasa.

Di perjalanan saya selama mudik saya banyak bertemu dengan pengendara dengan plat nomor yang sama – sama-sama ber-plat nomor BH– dan tentu saja dengan arah yang sama walaupun tujuan yang berbeda. Sesama pemudik kami tak saling kenal, tetapi memainkan alunan klakson merupakan hal yang lumrah, karena sebagai tanda sapa sebagai sesama pemudik.

Ada satu kejadian sewaktu di perjalanan yang mungkin bisa dibilang paling mendebarkan karena rasanya dekat sekali dengan kematian. Pada waktu itu saya bertemu dengan pengendara labil dan tentu saja ugal-ugalan di jalan. Hampir saja pengendara tersebut bertemu malaikat izrail, tapi untung saja mungkin malaikat izrail lagi slow respon, jadi pengendara tersebut masih bisa melihat matahari esok hari.

Kronologisnya begini, jadi, pengendara tersebut ngebut dan nekat mendahului mobil truk yang ada didepannya dan kebetulan jalan didepan itu tikungan, ntah, mungkin nggak sabaran atau memang punya nyawa sembilan, ia nekat mendahului. Padahal pada saat itu benar titik buta untuk mendahului kendaraan yang ada didepan.

Dan tentu saja seperti yang bisa di tebak, dari arah berlawanan ada mobil truk lain muncul, sontak pengendara tadi  rem mendadak dan akhirnya terjatuh dari motor hingga terguling di jalan. Untung saja pengemudi truk masih sempat untuk menginjak pedal rem dan mobil masih bisa berhenti, kalo tidak, hmm, bisa langsung cod-an sama malaikat izrail.

Fyi jarak saya dari pengendara tersebut hanya beda satu motor saja, walau juga sempat terbesit di pikiran saya untuk mengikutinya. Dari kejadian tersebut saya banyak-banyak mengucap syukur karena masih belum dipertemukan sama malaikat izrail dan juga masih diberi kesempatan bertemu keluarga serta juga bisa mempublish tulisan ini.

Setelah dari kejadiaan tersebut saya jadi lebih berhati-hati dan gas tipis-tipis menuju rumah. Sambil selalu mengingat tuhan selama diperjalanan, dan juga tentunya keluarga dirumah. Dan setelah kejadian momen dramatis tersebut, kurang lebih sekitar jam 17:30 saya tiba dirumah dengan selamat – Alhamdulillah.

Buat temen-temen yang lagi dan mau mudik, safety riding, yah.



 
Foto diabadikan saat sedang beristirahat dan sampai dirumah.



Saturday, May 18, 2019

Kesialan Dibalik Keberuntungan


Hari ini tepatnya selepas maghrib di salah satu mesjid dekat tempat saya kos sedang diadakannya acara buka bersama. Sontak jiwa-jiwa anak kos sejati pengejar gratisan muncul untuk menghadiri acara tersebut.
                 
Setelah mandi dan prepare saya langsung menuju masjid untuk mengikuti acara buka bersama. Jarak dari kosan saya ke mesjid yakni kurang lebih yah, sekitar 700 meteran. Hitung-hitung olahraga yah, saya jalan kaki menuju mesjid.
                
Kira-kira berangkat dari kosan pukul 18:05 wib dan sampai di mesjid tepat 8 menit sebelum waktu berbuka puasa. Disana saya sudah bertemu dengan rekan – rekan kuliah, perantau, sekaligus pencari makan gratisan —yah, namanya juga anak kos.
                 
Kami pun mencari tempat duduk yang ada makanannya  kelihatan paling enak —walaupun sama aja sih sebenernya—  dan setelah itu  kami duduk bersebelahan sambil bercerita sambil menunggu adzan maghrib tiba. Setelah acara dibuka dan pemberian kata sambutan dari ketua panitia buka bersama dan dilanjutkan iringan adzan maghrib kami pun menyantap hidangan yang telah disediakan untuk membatalkan puasa.
                 
Setelah menyatap menu bukaan ringan dilanjutkan dengan solat maghrib. Saya pikir setelah solat maghrib acara selesai. Sontak saya buru-buru jalan pulang ke kos untuk makan nasi karena masih terasa lapar, hehe.
                 
Selang jarang kurang lebih 100 meter sampai di kos. Saya dengar pengumuman yang diumumkan melalui pengeras suara masjid bahwasanya akan dibagikan nasi bungkus.

Sontak keluar celetukan “ bangke ada nasi bungkus rupanya” sontak diri ini mau jalan balik ke mesjid lagi hanya demi dapat nasi bungkus, tapi jarak sudah nanggung sampai kos yah,sudah lanjutkan pulang ke kos. Dan saya yakinkan diri mungkin belum rezeki. Walaupun agak nyesek juga sih dikit, tapi tak apalah yang penting udah dapat gratisan diawal, hehe —dasar anak kosan.

Monday, April 15, 2019

Pengalaman Tukar Buku Rusak Di Gramedia


Kurang lebih sekitar hampir satu bulan ini saya tidak ada berkunjung ke toko buku, biasanya 4 minggu sekali saya pergi ke toko buku —eh sama aja— untuk menambah kelokesi buku bacaan saya. Minggu kemarin saya sempatkan diri untuk menyampangi salah satu toko buku yang ada di kota padang yaitu gramedia.

Dari kosan menuju toko buku gramedia kurang lebih,yah,sekitar 20 menitan lah. Sesampainya ditempat saya memakirkan kendraan saya di tempat parkir —ya iyalah tempat parkir— saya langsung melangkah masuk ke toko buku.

Tepatnya di lantai dua —tempat buku pengetahuan, ilmiah, dll— dan tiga —untuk novel dan komik— berbagai macam koleksi buku yang dijual mulai dari best seller hingga antah berantah sekalipun. Namun tetap bagi saya pribadi tetap mengapresiasi mereka para penulis yang telah berkarya melalui buku.

Saya berkeliling dari rak ke rak dari sudut ke sudut, namun ada satu karya yang memikat hati dan juga menjadi incaran saya yakni sebuah novel karya J.S. Khairen dengan judul "Kami (Bukan) Sarjana Kertas". Sebenarnya saya sudah lama mengintai di istagram penulisnya namun apa daya waktu itu tak ada niatan hati untuk meminang karyanya.

Dan sekarang tanpa fikir panjang pada saat itu juga saya pinang novel karangannya. Alasan saya meminang buku ini yakni  saya tertarik dengan testimoni dari yang sudah membacanya,  dan juga judulnya yang membuat saya tertarik karena dengan sikon saya saat ini, dan tentang perihal pertanyaan-pertanyaan yang menghantui pikiran saya, mau apa saya ketika kelak sudah jadi sarjana.

Singkat cerita telah saya kupas habis buku ini hanya berjarak 6 hari setelah pembelian, dan ketika sudah berada dibab terkahir, betapa terkejutnya saya ternyata ada beberapa halaman kosong yag terdapat didalamnya, sontak tanpa pikir panjang saya langsung bergegas untuk menukar dengan yang baru.

Sempat awalnya pesimis apakah buku ini bisa di tukarkan dengan yang baru dan juga buku ini sudah dicoret-coret, tetapi dengan bermodal keyakinan dan juga saya masih menyimpan struk pembelian saya langsung berangkat.

Setelah sampai saya langsung menuju costumer service untuk menanyakan apakah buku tadi bisa diganti dengan yang baru, mbak-mbak costumer service sempat kaget dan juga sempat memberikan pernyataan sepertinya buku ini tidak bisa di ganti karena sudah dicoret. Saya sudah pasrah waktu itu, namun mbak-mbak tadi coba menelpon ke manajernya dan ternyata, jreng-jreng, buku bisa di tukar. Dalam hati saya bersyukur ternyata buku masih bisa ditukar. Dan mbak-mbak nya tadi juga bilang kesaya untung cepat datang, karena waktu penukaran sudah hampir habis dan seperti syarat penukaran yang tertera. 

Fyi untuk penukaran buku maksimal 7 hari setelah pembelian.

Saya sadar keberuntungan masih berpihak kepada saya,hehe. Mungkin lain kali, ketika mau membeli buku lagi harus cepat-cepat di baca sampai habis agar ketahuan kalo ada halaman yang rusak atau cacat,hehe —kemarin juga nggak sempat cek dulu, karena buku masih dalam plastik saya pikir aman-aman saja.

    

Beberapa halaman buku kosong.

Sunday, April 14, 2019

Bertemu Kakek Veteran Perang Ketika Travelling


Hari rabu tepatnya tanggal 3 april kemarin bertepatan dengan libur isra mi'raj saya melaksanakan perjalanan solo tavelling ke luar pulau sumatra menuju pulau jawa atau tepatnya ke tangerang. Kurang lebih sekitra 20 tahun saya hidup baru kali ini saya melakukan perjalanan terjauh seorang diri ke pulau jawa.

Perjalanan yang saya tempuh melalui jalur darat lebih tepatnya menggunakan bis antar kota antar provinsi—karena tiket peswat lagi mahal, jadi naik bis. Start perjalanan dari kota padang menuju jakarta atau tepatnya ke tangerang.

Bukan tanpa tujuan saya kesana selain solo travelling saya juga ingin menjalin silatuhrami dengan kerabat yang ada di tangerang dan juga mencari  jodoh —siapa tau ketemu hehe . Perjalanan menggunakan bis memakan waktu kurang lebih sekitar 2 hari 1 malam dari kota padang menuju tangerang.

Ada banyak cerita dalam perjalanan menuju kota tangerang. Mulai dari bertemu dengan kakek seorang veteran perang, seorang ibu dengan cucu kesayangannya hingga bapak-bapak dengan tawa yang khas sehingga menghibur seluruh penumpang bis yang ada di dalamnya.

Berbicara tentang seorang kakek mantan pejuang, saya sempat mengobrol sedikit berasamanya terkait cerita tentang masa-masa perjuangan indonesia dulu.

Dari cerita yang saya tangkap beliau dulu ketika ikut berperang melawan belanda dan jepang, beliau hampir saja terbunuh oleh salah satu dari tentara dari pasukan penjajah, namun karna nasibnya baik tak sempat ia  menyarangkan peluru di badannya, namun kebalikannya beliau lah yang dapat melumpuhkan—sempat saya merinding ketika beliau bercerita— tentara tersebut.

Saya merasakan hal yang berbeda ketika mendengar beliau bercerita tentang kisah perjuangan beliau yang terlibat langsung. Benar-benar sebuah keberuntungan dan kehormatan bagi saya pribadi bisa mendengar cerita tersebut.

FYI (for your informations) kakek ini sudah berusia 99 tahun atau lebih tepatnya beliau lahir pada tahun 1920 sebelum indoneisa merdeka, wajar saja ia ikut bergerilya dalam peperangan indonesia melawan penajajah.

Namun ada kisa pelik dan saya tak habis fikir, kenapa?, karena kakek ini berpergian sendiri menuju ibukota tanpa di temani anak-anaknya, apa lagi selama perjalanan beliau dengan keterbatasan pendengaran

Saya sempat menanyakan tujuan kakek ini ke ibukota dan dia bilang ingin bertemu anak-anaknya, tadinya saya ingin mengantarkan kakek ini ke tempat yang beliau tuju, namun karena tujuan saya dan beliau berbeda dan juga ini baru pertama kali saya ke ibukota, maka tak sampai lah niat saya.

Setelah saya tanya sana-sini ke beberapa penumang yang ada di bis untungnya ada salah seorang penumpang dengan tujuan yang sama dengan kakek ini, dan siap membantu serta mengantarkan beliau ke tempat tujuan.

Ini certia yang dapat saya sampaikan, memang tak bisa dipungkiri sejatinya selama diperjalanan ada banyak pengalaman yang tak terlupakan yang saya dapatkan mulai dari bertemu orang asing, saling mengenal, bercerita, dan masih banyak lagi yang ingin saya tulis tentang kisah perjalanan ini. Next time untuk solo tavelling yakni ke kota istimewa yang ada di indonesia.

Kakek Rustam Veteran Perang

Kartu Anggota Veteran


Sunday, March 24, 2019

Tebar Kebaikan Bersama Komunitas "Berbagi Nasi Padang"

وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ

“Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah Berbuat baik kepadamu” 
(Al-Qashas: 77)

Sepenggal ayat diatas menyadarkan kita bahwasanya kita sebagai manusia tak lepas dari kehidupan sosial, serta dalam hidup ini haruslah saling berbuat baik kepada oranglain—tentunya orang yang tepat.

Banyak manusia dimuka bumi ini yang sejatinya memilki hati yang tulus dan ingin berbagi kebaikan namun kadang ada beberapa alsan yang timbul dalam hati sehingga tidak terjadinya aksi untuk berbuat kebaikan.

Sejatinya kita hidup di muka bumi harus saling berbuat baik, sebagaimana yang telah diperintah oleh ayat diatas.

Tepatnya hari minggu lalu tepatnya tanggal 17 maret 2019 saya bersama teman-teman komunitas Berbagi Nasi Padang melakukan aksi yang kami sebut dengan 'Padang Kenyang'—bagi-bagi nasi bungkus—yang di fokuskan untuk orang-orang yang membutuhkan.

Saya bersama teman-teman di komunitas membuka open donasi untuk Berbagi Nasi Padang dan setelah dana tersebut terkumpul, kami membelanjakan uang dari para donatur tersebut untuk membeli apa-apa saja yang diperlukan—nasi bungkus tentunya—dalam aksi Padang Kenyang.

Nah, setelah persiapan sudah matang, kami langsung bergerak untuk melakukan aksi. Saya bersama teman-teman komunitas memulai aksi sektitar jam lima sore, yang titik kumpulnya bertepatan di area parkir salah satu masjid yang dijadikan maskot koda padang, yaitu Mesjid Raya Padang.

Kurang lebih sekitar 185 (seratus delapan puluh lima) bungkus nasi beserta cemilan yang telah dipacking rapi siap untuk dibagikan. Kami yang terdiri dari beberapa orang dan kendaraan masing-masing langsung berpencar untuk menemukan target yang akan dibagikan.
 
Singkat certia tepat sebelum azan maghrib berkumandang saya dan bersama teman-teman sudah berhasil membagikan 185 bungkus nasi tadi—alhamdulillah pembagian berjalan dengan lancar. setelah teman-teman yang berpencar sudah berkumpul di titik temu, kami langsung menunaikan sholat maghrib dan berkumpul kembali, berbagi keluh kesah atau masalah yang dihadapi selama melakukan aksi, dan mendiskusikan kegiatan aksi selanjutnya.



(Dokumentasi Bagi-bagi Nasi Bungkus)

Saturday, March 16, 2019

Cobain Minum Susu Whey Protein


Untuk mendapatkan fisik yang prima serta menjaga kesehatan selain dari makan makanan yang sehat, harus ada aktivitas yang mendukung yakni berolahraga. Berolahraga sendiri merupakan salah bentuk aktifitas fisik yang dilakukan untuk membuat tubuh bergerak aktif sehingga menghasilkan keringat.

Nah, dalam berolahraga kita dianjurkan memakan makanan yang kaya akan protein tinggi, contoh seperti ikan, daging, telur, dan lain sebagiannya. Jika kita terlalu ribet dalam menyajikan makanan, sekarang sudah dipermudah dengan adanya susu yang proteinnya tinggi, yang biasa disebut dengan whey protein.

Bagi para fitness mania pasti sudah tahu apa itu whey protein. Biasanya para atlet menggunakan susu whey protein sebagai nutrisi penunjang dalam olahraga angkat beban. Kandungan yang terdapat pada susu whey protein itu kurang lebih sekitar 27-30 gr per 4 scoopnya.

Akhir-akhir ini saya mencoba untuk melakukan olahraga angkat beban di salah satu tempat kebugaran yang ada di kota saya tinggal. Karena dari beberapa artikel yang saya baca di internet kandungan yang terdapat dalam susu whey itu tinggi, jadinya saya berkesempatan untuk membeli susu itu sebagai penunjang saya berlatih di gym—maklum anak kosan makan suka sebarangan.

Tepatnya kemarin pada hari senin, saya membeli susu whey secara online di salah satu toko online. Selang satu hari setelah pemesanan, paket pun tiba di tempat. Saya pun membeli susu whey tersebut dengan rasa coklat, sesuai dengan rasa kesukaan saya.

Saya tidak langsung mencoba susu tersebut ketika datang, saya baru bisa mencoba susu tersebut keesokan harinya setelah habis olahraga di gym. Karena menurut beberapa riset yang saya baca meminum susu whey yang baik pada saat selepas bangun tidur atau sehabis berolahraga. Jadi saya putuskan sehabis berolahraga saja.

Setelah selesai berolahraga saya coba minum susu whey tersebut. Dalam pikir saya pasti susu ini enak apalagi rasanya coklat. Tetapi saya salah ternyata susu ini tidak berasa malahan agak pahit, dan bahkan susunya agak-agak kental. Awalnya saya enek bahkan mau hampir muntah meminumnya, tetapi setelah saya pikir-pikir jikalau saya muntah saya merasa sangat merugi—keluar mental hemat anak kosan.

Jadi susu whey bukanlah sebuah produk susu pada umumnya, apalagi kandungan yang terdapat didalamnya lebih banyak protein ketimbang susu lain. Dan ditambah lagi soal rasa yang bisa dibilang enggak enak, bagi orang awam seperti saya yang baru merasakan susu tersebut.

Tapi inilah tantangan yang harus dihadapi kalo mau punya badan ideal dan bagus kayak bang ade rai—harapannya sih gitu— biar lebih keliatan maco dan perkasa, dan disukai banyak wanita. Disukai wanita yah, bukan gender yang lain.

Sumber Foto Dari Penjual Di OlShop

Sunday, February 3, 2019

Penikmat Cinta Bergulir

Teruntuk kalian wahai penikmat cinta bergulir. Selamat, karenanya kalian tidak merasa jenuh dan bosan melewati hari-hari kalian. Karenanya hari-hari mu kian berwarna dan tentunya membuat-mu merasa berbahagia disetiap kesempatan.

Teruntuk penikmat cinta bergulir, nimatilah... Selagi itu ada dan membuat-mu lebih berbahagia dari yang lainnya. Namun, adakalanya kau harus berfikir ulang terhadap cinta bergulir-mu itu. Jangan kau gantungkan hasrat dan kebahagian-mu itu, pada kebahagian yang bisa dibilang semu.

Percayalah... Kebahagiaan yang kau rasakan dari cinta bergulirmu itu, bukanlah satu-satunya sumber kebahagiaan. Ada banyak tempat serta kesempatan untuk menemukan sumber kebahagiaan lain yang tentunya lebih kaya makna, rasa, serta kebahagiaan.

Teruntuk kalian yang sedang menikmati cinta bergulir, pastinya kalian tak-kan setuju jikalau ada sumber kebahagiaan lain, selain dari yang kalian dapatkan itu. Kalian mungkin bersikukuh bahwasanya sumber bahagia inilah sumber utama dari sumber-sumber kebahagiaan lain. Tak mengapa aku pun tak juga menyangkal apalagi menyalahkan apa yang kalian rasa.

Tapi yang jelas, teruntuk kalian penikmat cinta bergulir, cinta dan kebahagiaan semu yang kau rasakan kini tak selamanya terus bergulir. Karena itu bersiaplah untuk patah dan rapuh.

--------------------------
@febryanbp 

Padang, Februari 19

Tidak Penting

Terkadang setiap orang selalu banyak pertimbangan dalam sebuah masalah. Entah itu masalah pribadi atau hal-hal lain yang mungkin itu tidak penting.

Ketidak pentingan yang kadang suka terbayang-bayang dipikiran, kadang bikin kapala terasa panas dan berat dibuatnya.

Duh, ingin sekali rasanya merefresh ulang pikiran dari hal-hal yang sepatutnya tak penting untuk dipikirkan.

Tetapi apa daya tetep aja kepikiran juga, ya namanya juga manusia. Mungkin salah satu solusi untuk berhenti mikirin hal yang tak penting saya rasa nggak mikirin hal tersebut.

Bingungkan? Sama saya juga.

Sunday, January 20, 2019

Solo Touring Jambi - Padang



Happy New Year 2019! Yeaay, mumpung ini masih di bulan januari nggak apa-apa lah telat ngucapinnya hehe. Liburan telah usai waktunya kembali ke rutinitas, yap senin udah mulai masuk kuliah lagi. Semester baru pacar baru ilmu baru.

Memasuki awal semester genap, saya sebagai seorang mahasiswa mulai menyiapkan segala perbekalan atau pun alat-alat yang dapat menunjang segala kegiatan saya dikampus. Mulai dari alat tulis hingga sampai gombalan servis sepeda motor kesayangan—untuk persiapan solo touring.

Sebelum memulai semester baru dan melakukan perjalanan atau bisa juga disebut touring karena jarak yang ditempuh lumayan jauh. Saya menyervis motor kesayangan terlebih dahulu agar nyaman digunakan sebelum melakukan perjalanan touring agar nantinya tidak ada masalah ketika di perjalanan nanti. Fyi jarak dari rumah saya kekampus itu sekitar 478km atau kurang lebih 10 jam perjalanan jika menggunakan kendaraan bermotor. Yap saya menggunakan motor untuk menempuh jarak tersebut.

*note: kalo di google maps kurang lebih kurang sekitar 11 jam-an.
Jarak Dari Rumah Ke Kampus.
Saya sendiri kuliah disalah satu perguruan tinggi negeri yang ada di sumatera barat, atau tepatnya di Universitas Negeri Padang. Karena jarak dari rumah yang terbilang cukup jauh menuju kampus, dan juga untuk menekan biaya pengeluaran selama merantau, jadi saya menggunakan sepeda motor agar sedikit lebih hemat.

Saya memulai perjalanan solo touring dari rumah sektiar jam 6:40 pagi, yang tentunya berangkat setelah berpamitan dengan kedua orang tua. Dari rumah saya gas tipis-tipis menuju chekpoint pertama yang saya tetapkan yaitu tepatnya di muara bungo. Kurang lebih saya menepuh waktu perjalanan 3.5 jam dari rumah menuju muara bungo.
Singgah Di Muara Bungo
Setelah tiba di muara bungo saya singgah di salah satu mini market disana, untuk membeli cemilan sembari beristirahat sejenak untuk melepas penat selama perjalanan 3.5 jam tadi. Kurang lebih 30 menit saya beristirahat, dan setelah itu saya lanjutkan perjalanan menuju kota padang—letak kampus berada di kota padang.

Dari muara bungo menuju kota padang, saya melewati perbatasan provinsi jambi dengan sumatera barat dan melewati dharmasraya. Beberapa ratusan kilo meter setelah dharmasraya tepatnya di Sijunjung saya bertemu dengan salah satu pengendara yang bernama wendra.

Saya berjumpa dengan wendra di jalan, awalnya saya menyapa wendra dijalan, setelah itu dia membutntuti saya dari belakang. Karena rute di sinjunjung itu lumayan panjang dan indikator bahan bakar mulai menipis akhrinya kami berhenti di salah satu SPBU, untuk mengisi bahan bakar, sembari melepas penat.

Saya sedikit berbicang dengan wendra, ternyata wendra sendiri berasal dari pekan baru, yang akan menuju ke silungkang karena ada urusan pekerjaan. Setelah perbicangan singkat saya dengan wendra kami pun melanjutkan perjalanan. Beberapa ratus meter setelah monumen sawah lunto, wendra berhenti tepatnya didekat persimpangan menuju ke silungkang. Disitu saya berpisah dengan wendra karena tujuan yang berbeda, hingga akhirnya saya melanjutkan perjalanan menuju kota padang melewati kota solok.

Beberapa ratus kilo meter setelahnya saya tiba di kota solok,yang terkenal dengan kota dingin kedua setelah padang panjang. Dalam perjalanan saya menikmati hamparan sawah hijau yang memebentang luas yang tak sepat saya abadikan, dan melewati gunung talang, hingga sampai di rute sitinjau lauik yang terkenal dengan rute ekstrem bagi para pengemudi.

*fyi sitinjau lauik merupakan rute ekstrem yang ada si sumatera barat, untuk lebih jelas coba search di google.

Setelah dari solok menuruni rute ekstrem sitinaju lauik, saya sempat berhenti di simpang gadut tepatnya di salah konter dekat simpang tersebut untuk bertemu sekalian berbincang dengan kawan lama saya yang kebetulan sedang bekerja di salah satu konter. kurang lebih sekitar 30 menit saya berbincang, dan akhirnya saya meneruskan perjalanan menuju kosan saya—saya kos disekitar area kampus.
Singgah Di Tempat Kerja Kawan Lama

Setelah sampai di kosan saya melepas penat dan rehat mengistirahatkan badan yang lelah selama perjalanan touring yang kurang lebih 10 jam. Sebenarnya ini bukan pertama kali saya melakukan solo touring tapi ntah kenapa perjalanan kali ini sungguh melelahkan, akan tetapi tak apalah saya sangat menikmati perjalanan kali ini. Mungkin next time solo touring ke bali, biar memacu adrenalin dan biar lebih remuk dan kerasa capeknya ya hehe.
Sampai Di Kosan.

Sunday, December 16, 2018

Nongkrong Nggak Harus Melulu Soal Kopi

Bagi kaum millenial yang hits dan kekinian nongkrong merupakan sebuah keharusan yang harus dilakukan, apalagi pada saat sabtu malam. Ntah itu sekedar bertemu pacar, gebetan, atau bareng temen yang sama-sama #jombloprihatin. 

Di tongkrongan sendiri biasanya kawula muda yang hits dan kekinian selalu mencari tempat-tempat yang keren dan tentunya instagramable. Dan yang tempat yang paling sering di kunjungin yakni coffe shop. Di era sekarang, coffe shop sendiri sudah banyak menjamur dimana-mana. Karena tentunya bagi para pelaku usaha, ini merupakan peluang yang harus di maksimalkan.

Saya salah satu kawula muda diantara banyak kaum millenial yang keren dan instagramable, walaupun saya tidak se-keren dan se-instagramable kawula muda yang lain #hehe. Saya sendiri jarang keluar malam, namun di malam ini saya diajak oleh salah satu teman saya untuk pergi keluar untuk menikmati suasana sabtu malam #jombloprihatin. 

Saat keluar-pun kami juga tak tahu mau kemana, yah karena temen-temen saya ini juga sama seperti saya #jombloprihatin dan jarang nongkrong. Setelah ada perbincangan sedikit untuk menentukan tempat, kami empat #jombloprihatin merencanakan untuk nongkrong disekitar area kampus. Setelah sampai tujuan , eh.. ternyata yang saya duga benar, banyak sekali pasangan yang duduk berdua yang mempublikasikan kemesraan di area sekitar kampus untuk menikmati suasana sabtu malam. ‘Duh, nyesal saya pergi keluar’ –teriak dalam hati.

Kami ber-empat sempat hening sebentar, karena mungkin sama-sama lagi ngerasain ngenes-nya malam minggu nggak punya pasangan. Tak beberapa lama kemudian kami melihat salah satu teman kami juga yang sedang melintas didepan kami sontak dengan reflek kami memanggil teman tersebut. Dan tak lama dia menghampiri kami, dan berkata ‘ngapain?  kalian ngumpul disini? Dasar jomblo!’. Kata terakhir tersebut sontak membuat kami ber-empat sedikit naik pitam, dan salah satu dari kami ber-empat pun berkata ‘inilah efek klo tidak punya kaca dirumah’. 

Finally berkumpulah kelima jomblo yang haus dengan kasih sayang #haha. Dan teman kami yang baru datang tadi mengajak kami untuk mencoba salah satu tempat tongkrongan yang nggak kalah asik dengan coffe shop. Dan tentunya tempat ini tidak sekeren dan se-instagramable coffe shop.

Tempat ini seperti layaknya angkringan jogja, tapi karena disini padang, yah jadi angkirngan padang #haha. Setelah sampai ditujuan, kami disambut oleh pelayan dan diberikan pilihan menu. Di tempat ini tidak ada coffe, tentunya saja disini ada menu yang lebih spesial dari pada segelas kopi dan tentunya sangat populer bagi kawula muda kota padang yakni teh telur. Orang padang sendiri biasanya bilang ‘Teh Talua’ teh sejuta umat dan peminat yang ada di sumatra barat.

Disini kami bercerita dalam berbagai macam hal walaupun tak se-keren dan se-instagramable di coffe shop. Kami tau, kami tak pandai merangkai kata-kata bijak layaknya seorang pencinta kopi, tapi kami tahu rasa dan suasana selayaknya seperti para penikmat tongkrongan coffe shop yang highclass. Kami pun tahu tempat ini juga biasa-biasa saja, tapi kami menikmati setiap sruputan teh telur yang kami pesan sembari bercerita terhadap keluh kesahnya kehidupan sebagai seorang mahasiswa dan #jombloprihatin tentunya #haha. 

Jadi untuk nongkrong nggak melulu selalu soal kopi, terkadang secangkir teh telur pun juga oke. Karena kami para jomblo dan kami mahasiswa perantuan yang kepingin gaul juga walaupun dengan uang yang pas-pasan, jadi kami nongkrong sesuai dengan kelas kami dan tentunya ramah dengan isi dompet #hehe. 
Teh Telur Di Angkringan Padang.

Friday, November 30, 2018

Tak Gentar Hadapi Hujan, Namun Perjuangan Yang Sia-Sia

Tepat setelah ibadah shalat jum'at, kota padang diguyur dengan hujan lebat. Dan tepat dimana setelah jum'at, masih ada sisa satu mata kuliah yang harus diikuti. Dengan suasana hujan dan dingin yang menusuk ke tulang, rasa malas dalam diri pun mulai terngiang-ngiang dihati dan otak mulai menyetujui maksud keinginan hati. Dengan sikon senyaman ini, tentu saja siapa-pun makhluknya tidak akan pernah bergerak dari tempat manapun, karena kondisi seperti ini.

Saya pun sudah mulai larut didalam kenyamanan yang dibuat oleh kemalasan saya sendiri ditambah lagi dengan kondisi yang sangat mendukung sekali. Hati kecil saya yang lain bergumam 'bagaimana dengan kuliah? apa benar dengan keadaan seperti ini masih tetap kuliah?', dan otak mendukung secara penuh dan berkata 'tentu saja siapa yang mau menuntut ilmu dengan cuaca seperti ini', dan hati berkata kembali 'bagaimana jika kuliah, dan dosennya masuk apa iya? Harus ambil jatah libur?', otak dan hati mulai tak sinkron dan tentu saja otak tak mendukung dan meyakinkan sembari berkata 'tentu saja tidak kuliah, emang siapa yang mau kasih perkuliahan di cuaca seperti ini'. Memang terkadang hati, dan otak sebagai tempat berfikir, kadang tak sinkron satu sama lain. Memang terlalu banyak pertimbangan ketika mengambil sebuah keputusan, dan bahkan keputusan yang paling sepele sekalipun harus ada yang dipertimbangkan.

Banyak yang bilang jika kamu ingin sukses maka ikutilah kata hatimu. Ntah siapa yang menggagaskan kalimat tersebut dan kapan kata-kata tersebut dibuat. Tetapi yang jelas kata-kata tersebut hampir atau bahkan banyak orang yang menggunakannya sebagai bagian dari sebuah prinsip hidup yang harus diyakini. Dan saya mungkin salah satu dari sekian banyak orang tersebut.

Dengan tekad, motivasi, serta saya kumpulkan semangat dalam diri. Saya mulai mengambil keputusan sesuai dengan kata hati, yakni dengan memilih pergi kuliah. Untuk memastikan kuliah atau tidak. Walaupun kondisi yang sedang diguyur oleh hujan lebat. Namun kata hati sudah mulai mantap untuk tetap pergi. Tentu saja raga mengikuti apa yang di rasakan oleh hati.

Dengan tekad yang telah terkumpul, saya siap untuk berangkat kuliah, demi menuntut ilmu, demi membahagiakan orang tua, dan demi calon jodoh ku nantinya (efek jomblo dari lahir). Setelah saya pakai mantel, sandang tas, dengan menggunakan sendal jepit buatan jepang, dan sepatu yang telah saya taruh di dalam jok motor. Tak lupa menggunakan helm saya hidupkan motor kesayangan dan siap gas ke kampus untuk pergi menuntut ilmu.

Setelah sampai kampus, saya parkirkan motor dan lepas helm. Dengan yakin saya menuju ke kelas dengan langkah yang cepat karena saya tahu sudah terlambat. Dan belum sampai kelas saya sudah bertemu dengan salah satu teman saya dan berkata 'hari ini kita tidak kuliah tadi bapak telpon, alasannya ada urusan'. Sontak semangat langsung memudar, dengan kenyataan yang dihadapi. Namun apa daya sudah ini sudah terjadi. Kenyataan kadang lebih pahit dari sayuran pare (haha). Sebuah perjuangan, namun sia-sia.

Jadi jika diambil dari sisi postifinya , walaupun perjuangan  terkesan sia-sia. Setidaknya saya sudah berani keluar dari zona nyaman, mengikuti kata hati. Walaupun tidak mengikuti insting dan sikon yang terjadi dan demi meyakinkan kata hati. 
Kuliah Dengan Sendal Jepit :v

Bagi para pejuang sarjana, tetap semangat apapun keadaanya tetap jalani dan nikmati, walaupun kadang ada hal kecil yang sia-sia, tapi tak apalah dari pada datang penyesalan yang besar. Kan nggak enak dengar kata sesalnya *hahaha.

Semangat Kuliah! Salam Mahasiswa! *strong

Sunday, May 27, 2018

Parnok-nya Orang Overthinking

Parnok-nya Orang Overthinking
Saya orangnya sering kali overthinking, sangking overthinkingnya kadang bisa sampe kabawa mimpi dan yang paling parahnya lagi sampai ngingau, ntah apalah yang membuat saya menjadi orang yang punya pemikiran yang berlebih tersebut sehingga bisa juga dibuat stress karenanya.

Saya kadang juga merasa bingung gimana cara mengatasinya dengan cepat, sudah berbagai tips diinternet yang sudah saya terapkan, tetapi kadang masih juga parnok-nya setengah mati. Kayak orang waras tapi keliatan gila. Nah loh gimana anehnya coba saya.

Di artikel sih banyak yang bilang overthinking itu karena kurang percaya diri, kurang persiapan, dan juga mental yang lemah. Emang iya sih saya juga merasa kurang percaya diri, tapi kalo perisapan dan mental ya mungkin enggak terlalu juga sih. Banyak hal yang saya coba lakukan mulai dari selalu beprikir positif dan mulai ambil pernapasan yang dalam dan juga yang paling aneh nih mungkin ngomong sendiri. Yah mungkin terlihat aneh sih tapi setidaknya mampu mengeluarkan apa yang pengen dikeluarin dari pada di pendem aja entar jadi stress. Sama kayak mendem perasaan ke dia gitu eehh anjirr. :v

Tapi seiiring berjalannya waktu serta proses pendewasaan diri, saya sudah mulai kalem.Bercerita sedikit, saya seorang introvet tapi enggak terlalu juga sih, saya lebih memilih berdiam diri di rumah ketimbang bermain dengan teman, yahh... bukannya sombong sih tapi lebih nyaman aja klo suasananya lebih tenang dan damai. Saya sering kesel juga kalo ada orang baru yang sok akrab gitu, i feel like a disgusting karena menurut saya yahh aneh aja. Ketimbang punya banyak temen, lebih baik saya punya teman sedikit dan nerima apa adanya, dari pada punya banyak teman dan semuanya fake dan akhirnya cuma dimanfaatin doang. Karena setiap keputusan diambil dari pengalaman orang masing-masing, yah jadi menurut saya gitu. Mungkin karena saya sering dimanfaatin sih, haha.

Jadi kita tahu bahwa overthinking merupakan proses berpikir yang dialami setiap orang di muka bumi, dengan keinginan didalam hati untuk tampil lebih sempurna, walaupun sejatinya manusia tidak ada yang sempurna, dan dengan berusaha untuk tampil sempurna maka mungkin sedikitnya kita tahu kekurangan yang kita miliki dan kekurangan tersebutlah menjadikan kekuatan untuk kehidupan yang lebih baik. Sehingga kita dapat memanfaatkan setiap kesempatan yang ada dan lebih bijak nantinya.

Wednesday, May 2, 2018

Mahasiswa Kupu-Kupu Yang Tak Punya Masa Depan

Mahasiswa Kupu-Kupu Yang Tak Punya Masa Depan

Salah satu jenis ras yang terdapat diperguan tinggi yang dipandang sebelah mata yakni “Mahasiswa Kupu-Kupu”, tipe mahasiswa ini hanya biasa terfokus pada satu tujuan saja yakni kuliah, setelah kelas habis hal biasa yang dilakukannya hanyalah pulang, kalau tidak pulang ya nongkrong.
Sebagian orang berpendapat bahwa mahasiswa yang satu ini acuh hingga tak mau tahu urusan apa saja yang ada di tempat dia belajar, dan sangking parahnya lagi hingga mereka tidak tahu siapa-siapa nama dosen, hingga senior yang ada dijurusannya sendiri. Mereka mahasiswa yang aktif memandang remeh mahasiswa ini, hingga mereka bilang mahasiswa ini memiliki tingkat kesuksesan yang sangat minim. Karena mereka berpendapat bahwa sejatinya menjadi mahasiswa harus mampu mencari pengalaman organisasi, mencari relasi yang cukup, dan mampu mengembangkan kemampuan leadershipnya. Karena bagi mereka kehidupan mahasiswa yang seperti inilah memiliki tingkat kesuksesan yang tinggi.
 Jika ketika melihat arti kata suskes sendiri menurut setiap individu pasti berbeda, contonya mungkin suskes menurut si A ia memiliki uang yang banyak, dan menurut si B suskes itu mampu berguna bagi orang lain, ya seperti itulah kata sukses. Tapi pada intinya kesuksesan hanya kita sendirilah yang mengetahuinya, karena pada dasarnya saja manusia mengambil setiap keputusan dalam hidupnya dari pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Hingga suskes pun mereka sendirilah yang mengetahui artinya.
Jadi pada intinya mahasiswa tipe ini lebih memilih menjadi kupu-kupu, jika mereka sudah memilih jalan ini ya itu terserah mereka. Dan mereka juga tidak menyesali keputusan yang dipilihnya, dan mungkin mereka memiliki arti sukses untuk mereka sendiri. Karena mengetahui kapasitas serta potensi diri sendirilah yang mampu menghantar menuju kesuksesan. Dan orang sukses tersebut mampu melihat dari dua sisi yang berbeda pada setiap pribadi seseorang sehingga mereka dapat menghargai apa-apa saja pilihan yang telah dibuat oleh setiap orang.
Dan menjadi mahasiswa kupu-kupu bukan sebuah keslahan karena sejatinya menjadi mahasiswa adalah sebua pilihan hidup yang harus disyukuri karena dengan demikian tidak ada terjadi hal yang sia-sia dalam hidup, karena sejatinya pengalaman-pengalaman yang didapat dari luar kampus lah yang lebih dibutuhkan sehingga nantinya mampu menetapkan pilihan-pilihan yang benar dan dapat menentukan masa depan yang sukses, dan tentunya tanpa ada rasa penyesalannya nantinya diakhir.