Beberapa waktu yang lewat pemerintah telah mewacanakan
program baru bagi masyarakat indonesia yang tidak memiliki pekerjaan tetap yakni
sebuah kartu yang beriisi uang, ya uang anda tidak salah dengar. Tentu ini sebuah
kabar bahagia bagi penduduk indonesia termasuk saya yang ngarap-ngarap juga.
Program ini juga sempat menjadi perbincangan hangat bagi
sebagian besar masyarakat, namun yang menjadi pertanyaan besar bagaimana cara pemerintah
membayar gaji pengangguran sedangkan hutang negara sendiri malah bartambah
banyak. Tentu saja tak habis pikir dibuatnya.
Namun sebagai warga negara yang baik tentu saja saya harus
tetap berpikir positif dan turut mendukung program ini dengan semestinya. Tentu
saja ini menjadi kabar bahagia untuk kita semua —jangan sambil nyanyi— yang memiliki budget minim untuk berhujat. Eh, maksud saya minim quota.
Ternyata wacana tersebut bukanlah bualan belaka karena kemarin
telah launchingnya situs prakerja pemerintah yang digadang-gadangkan. Semua media baik berita di tv, maupun daring terus mempromosikan program
tersebut.
Masyarakat tentu saja Antusias dan berharap untuk mendapatkan
kehidupan yang lebih baik lagi, apalagi pengangguran millenial.
Bak kuaci dibelah isinya zonk, ternyata dana bantuan yang
diberikan bagi para pengganguran yang digadang-gadangkan tak bisa dicairkan dan
hanya sebatas voucher, dan hanya bisa digunakan untuk membeli kursus yang telah
disediakan pemerintah. Tentu ini masuk akal juga mengingat nantinya uang akan
disalahgunakan dan tidak digunakan dengan semestinya.
Tetapi yang tidak masuk akal harga kursus online yang
ditawarkan pemerintah lebih mahal dari tempat penyedia kursus berbasis daring
lain. Coba dicek diwebsite sebelah sperti udemy, fiverr learn, coursera dan
macam-mcam online course lainnya, harga yang ditawarkan relatif lebih murah
dibanding harga yang pemerintah tawarkan.
Apalagi ditengah pandemi ini semua orang atau bahkan hampir
diseluruh belahan dunia menerapkan sistem work form home, dan mengingat ekonomi
juga sedang sulit. Tentu ini bisa jadi ajang perlombaan bagi para penyedia
kursus online untuk memberikan harga terbaik.
Tetapi apa mau dikata ini lah pemerintah, sudah sewajarnya
kita mau tak mau harus memaklumi pemikiran elit-elit kuasa yang ternyata pengertian 4.0 bagi mereka hanya sedangkal itu.
Jika pemerintah memberikan bantuan dana prakerja berbentuk voucher dengan harga
kursus selangit, kenapa harus dibelikan, kalo beli sendiri dengan
harga jauh lebih murah.
Saya berharap semoga pemerintah lebih bijaksana lagi dalam
merencanakan program dan menggolontarkan dana yang tidak sedikit tersebut.
Tentu nantinya dana anggaran tersebut dapat disimpan untuk membayar hutang
negara syukur-syukur juga kalau bisa dapat membantu memberikan bantuan sembako
bagi masyarakat yang membutuhkan agar lebih merata di
tengah wabah pandemi ini, dari pada membuang-buang uang untuk hal yang saya
rasa hanya sia-sia.




0 komentar: