Saturday, October 10, 2020

Awal dari Perjalanan Panjang Penuh Lika - Liku

Tepat tanggal 1 oktober kemarin, bertepatan dengan terbentuknya Forum Mahasiswa Mesin Indonesia (FMMI) saya melangsungkan ujian skripsi. Penuh perjuangan? tentu saja, karena situasi sebelum dimulainya ujian awan hitam sudah mulai mendominasi dan menutup langit hingga gelap.

Walau ramalan cuaca pada smartphone kadang tidak tepat, namun insting saya mengatakan hujan akan lebat siang ini, dan apa yang terjadi tentu saja hujan lebat mengguyur kota padang hingga malam hari. Apakah saya gentar? tentu tidak, karena ujian tetap harus berlangsung karena ini merupakan penantian panjang yang saya tunggu.

Tepat satu jam sebelum dimulainya ujian berasama seorang teman yang membantu, saya beranjak dari kamar kos berangkat menuju kampus dengan dirundung hujan lebat.

Setiba dikampus langsung menuju ruang administrasi jurusan untuk meminjam kunci dan segala perlengakapan untuk presentasi. Menata ruangan, menyiapkan proyektor, menata snack dll. Kurang lebih 10 menit sebelum waktu dimulai, sempat deg-degan karena penguji dan pembimbing belum juga terlihat namun saya masih tetap coba menenangkan diri karena kondisi memang diluar kendali.

Akhirnya sidang dimulai setengah jam lebih lama dari jadwal yang telah ditentukan, dihujani berbagai macam pertanyaan terkait dengan skripsi yang ditulis, Alhamdulillah semua terjawab dengan yakin. Tak terasa sudah lebih 2,5 jam didalam ruangan dan akhrinya saya dinyatakan lulus.

Teruntuk kedua orang tua, terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan hingga akhirnya dapat menyandang gelar sarjana. Walau berat karena ibu sempat sakit hingga menguras mental, tenaga serta pikiran namun dengan perjuangan akhirnya, tiba masa untuk sidang akhir juga. Semasa hidup mungkin tak banyak prestasi yang diri ini dapatkan, malah bisa dikatan hanya menyusahkan. Namun, izinkan diri mempersembahkan gelar ini untuk menorehkan senyum bangga bahagia diraut wajah kalian.

Teruntuk teman-teman yang telah membantu serta sempat hadir usai sidang, saya ucapkan terima kasih, semoga kesuksesan menyertai kita dan tentunya bermanfaat bagi diri sendiri dan bagi orang lain. Ini bukanlah akhir ini adalah awal menuju perjalanan panjang penuh lika-liku yang disebut dengan Kehidupan.

Sunday, May 3, 2020

Gak Enaknya Jadi Mahasiswa Tingkat Akhir Ditengah Pandemi


Tentu saja tidak bisa dipungkiri ditengah pandemi ada sejuta harap membentang bagi mahasiswa tingkat akhir. Dimulai dari lancar bimbingan skripsi/tugas akhir, penelitian, ujian akhir hingga sampai dengan proses yudisium. Tapi semua harap runtuh seketika ketika negara api pandemi menyerang.

Yang tadi rencana, strategi yang telah disusun dengan matang semua buyar hilang ditelan hiruk pikuk ketakutan akibat wabah pandemi.

Semua hanya bisa pasrah, sabar, serta ikhtiar untuk menerima kenyataan. Kenyataan yang belum ada apa-apanya dibandingkan kenyataan setelah yudisium, yang ternyata ijazah S-1 masih belum cukup dan tidak ada apa-apanya. Terdengar sedikit pesimis mungkin, tapi ini lah adanya.

Didalam kesusahan pasti selalu saja ada kemudahan, dan benar saja berbagai kemudahan-kemudahan datang, seperti diberikannya subsidi kuota data internet, bimbingan, seminar, ujian via daring, dan atau bahkan ditiadakannya skripsi yang diganti dengan review/publish jurnal.

Tapi tentu saja kemudahan-kemudahan yang diberikan membikin diri menjadi terlalu nyaman, tentu harus ada usahanya juga dong, masa iya sudah diberikan kemudahan masih males-malesan ngerjain skripsinya. Sudah diberikan pisang satu tandan malah minta dibikinin kolak pisang, haduuh.

Menjadi mahasiswa tingkat akhir ditengah pandemi sendiri merupakan sebuah bentuk survival yang memiliki tantangan tersendiri. Bagaimana tidak, ada sebagian mahasiswa yang masih terjebak di kosan dan dilarang pulang kampung, sudah jatuh tertimpa tangga pula, sungguh berat perjuangan. Aapalagi ditambah sedang menjalankan ibadah puasa, tentu rasa kangen tak tertahankan untuk keluarga besar dirumah apa lagi masakan ibu, huh, sungguh sulit dibayangkan.

Namun meski demikian saya tetap bersyukur karena masih bisa merasakan kehangatan menjalani puasa dirumah bersama keluarga. Karena beberapa waktu yang lewat telah menyelesaikan magang internship disalah satu perusahaan tempat saya tinggal.

Yah, apa mau dikata semua tetap harus dijalani. Walaupun terhambatnya penelitian, bimbingan, ujian serta yudisium di tahun ini, semua musti patut disyukuri dan terima dengan lapang dada.

Semoga untuk kedepan wabah cepat berlalu dan semua berjalan normal kembali. Hingga nantinya semua target, rencana, dan segala bentuk harap-harap yang gagal dapat segera terpenuhi. 

Monday, April 27, 2020

Kalau bisa beli sendiri kenapa harus debeliin?


Beberapa waktu yang lewat pemerintah telah mewacanakan program baru bagi masyarakat indonesia yang tidak memiliki pekerjaan tetap yakni sebuah kartu yang beriisi uang, ya uang anda tidak salah dengar. Tentu ini sebuah kabar bahagia bagi penduduk indonesia termasuk saya yang ngarap-ngarap juga.

Program ini juga sempat menjadi perbincangan hangat bagi sebagian besar masyarakat, namun yang menjadi pertanyaan besar bagaimana cara pemerintah membayar gaji pengangguran sedangkan hutang negara sendiri malah bartambah banyak. Tentu saja tak habis pikir dibuatnya.

Namun sebagai warga negara yang baik tentu saja saya harus tetap berpikir positif dan turut mendukung program ini dengan semestinya. Tentu saja ini menjadi kabar bahagia untuk kita semua —jangan sambil nyanyi— yang memiliki budget minim untuk berhujat. Eh, maksud saya minim quota.

Ternyata wacana tersebut bukanlah bualan belaka karena kemarin telah launchingnya situs prakerja pemerintah yang digadang-gadangkan. Semua media baik berita di tv, maupun daring terus mempromosikan program tersebut.

Masyarakat tentu saja Antusias dan berharap untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik lagi, apalagi pengangguran millenial. 

Bak kuaci dibelah isinya zonk, ternyata dana bantuan yang diberikan bagi para pengganguran yang digadang-gadangkan tak bisa dicairkan dan hanya sebatas voucher, dan hanya bisa digunakan untuk membeli kursus yang telah disediakan pemerintah. Tentu ini masuk akal juga mengingat nantinya uang akan disalahgunakan dan tidak digunakan dengan semestinya.

Tetapi yang tidak masuk akal harga kursus online yang ditawarkan pemerintah lebih mahal dari tempat penyedia kursus berbasis daring lain. Coba dicek diwebsite sebelah sperti udemy, fiverr learn, coursera dan macam-mcam online course lainnya, harga yang ditawarkan relatif lebih murah dibanding harga yang pemerintah tawarkan.

Apalagi ditengah pandemi ini semua orang atau bahkan hampir diseluruh belahan dunia menerapkan sistem work form home, dan mengingat ekonomi juga sedang sulit. Tentu ini bisa jadi ajang perlombaan bagi para penyedia kursus online untuk memberikan harga terbaik.

Tetapi apa mau dikata ini lah pemerintah, sudah sewajarnya kita mau tak mau harus memaklumi pemikiran elit-elit kuasa yang ternyata  pengertian 4.0 bagi mereka hanya sedangkal itu. Jika pemerintah memberikan bantuan dana prakerja berbentuk voucher dengan harga kursus selangit, kenapa harus dibelikan, kalo beli sendiri dengan harga jauh lebih murah.

Saya berharap semoga pemerintah lebih bijaksana lagi dalam merencanakan program dan menggolontarkan dana yang tidak sedikit tersebut. Tentu nantinya dana anggaran tersebut dapat disimpan untuk membayar hutang negara syukur-syukur juga kalau bisa dapat membantu memberikan bantuan sembako bagi masyarakat yang membutuhkan agar lebih merata di tengah wabah pandemi ini, dari pada membuang-buang uang untuk hal yang saya rasa hanya sia-sia.

Thursday, January 9, 2020

Dijatuhkan Sebelum Meninggi

Dijatuhkan Sebelum Meninggi
Kemarin senin merupakan hari yang saya tunggu-tunggu. Setelah segala persiapan dan bahkan rela tak pulang ke kampung halaman. Akhirnya saya di acc seminar oleh dosen pembimbing setelah beberapa kali menghabiskan ratusan kertas.

Ada sebagian drama yang mungkin terdengar pelik. Baik dari dosen pembimbing mau pun dari dosen peninjau. Untuk dosen pembimbing, okelah aman, karena sudah sering bertemu. Dosen peninjau, nah ini yang tak habis fikir dan membuat saya sedikit kesal.

Jadi hari dimana saya melangsungkan seminar proposal dosen peninjau A tak datang dikarenakan ada rapat. Dosen pembimbing dan dosen peninjau B tetap datang, walau dosbing masuk sebentar dan kemudian keluar. Sebagai gantinya dosen peninjau B tetap didalam.

Singkat cerita seminar berakhir tepat pukul 11.15, setelah berbagai macam kendala yang telah saya lalui. Tak lama 20 menit setelahnya dosen peninjau A telah selesai juga dengan rapatnya. Berniat langsung ingin menemui beliau namun saya urungkan karena waktu sudah terlalu mepet dengan istirahat. Akhirnya saya putusakan setelah isoma (Istirahat, Solat, Makan).

Nah, penghakiman dimulai setelah saya memasuki ruanga beliau, aura intimidasi mulai terasa mencekam memenuhi seluruh ruangan. Ketika beliau memulai berbicara dan mengajukan beberapa pertanyaan terkait skripsi, diawal masih bisa terjawab oleh saya namun lambat laun saya merasa berada disebuah roller coaster yang membikin kepala berputar-putar. Ntah, saya yang lelah emosi dan mental karena seminar sebelumnya atau emang saya yang agak sedikit bodoh. Saya harap mungkin tidak pada opsi kedua, hehe~

Hingga akhirnya kurang lebih selama satu jam saya berada di dalam ruangan, setelah keluar saya bingung apa yang sebenarnya yang dibacarakan didalam barusan. Setan alas memang, hingga saya pulang ke kosan hanya satu yang saya rasakan kesal membatin.

Sempat bertanya - tanya pada diri sendiri apa yang sebenarnya terjadi, hingga pada akhirnya satu kesimpulan yang saya ambil "Menjatuhkan seseorang merupakan kenikmatan bagi pecundang berpangkat agar dapat merasa tinggi".

Wednesday, September 25, 2019

Berdemonstrasi


Menurut peraturan UU No 9 Tahun 1998 pada Pasal 28 yang berbunyi:

"Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan Undang-undang."

Dan bentuk kegiatan berdemonstrasi dapat dituangkan melalui lisan, tulisan, dan sebagiannya secara demonstratif di muka umum.[1]

Akhir-akhir ini masyarakat indonesia sedang viral dan heboh terkait dengan tersiar kabarnya Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) dan revisi Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi (UU KPK) yang membuat masyarakat baik offline/online, wibu, kpopers, introvert, kutu buku dan hingga para mahasiswa aktivis kampus yang geram geleng-geleng kepala. 

Kenapa Demikian?

Karena isi dari rancangan serta revisi dari UU tersebut yang dinilai sangat tak logis dan bahkan bertentangan dengan kaidah atau aturan dari dasar Negara Indonesia yang demokratis dan bahkan juga penindasan terhadap kaum perempuan indonesia.

Salah satu isi dari UU tersebut yakni pada draf RKUHP yang tercantun dalam Pasal 218-2020 tentang penghinaan terhadap presiden.[2]

Pada RKUHP terhadap hukuman pada orang yang menghina presiden membuat saya geleng-geleng kapala. Apa benar mengkirtisi presiden sampai-sampai harus dibui? Tentu saja ini bertentangan dengan dasar negara Demokrasi yang terbuka untuk terbuka menyampaikan pendapat dan kritik. Lah, gimana kalau dia baper? Yang tadi niatnya untuk mengkiritik agar beliau sadar dan ingat atas kesalahan yang dibuat, malah harus di bui karena tak tahan menerima kritik dari rakyatnya. Jika ini bakal memang disahkan, maka matilah Demokrasi.

Saya sebagai mahasiswa turun kejalan melakukan demonstrasi bersama kawan-kawan dari Universitas se-Kota Padang untuk berdemonstrasi serta menanyakan dan membawa aspirasi rakyat terhadap kebijakan nyeleneh dan diluar ambang batas dasar negara Demokrasi.

Tepat pukul 10:00 WIB sesuai yang dijanjikan mahasiswa masing-masing kampus di Sumatera Barat bergegas menuju kantor DPRD untuk berdemonstrasi. Massa sudah mulai ramai, berjalan memadati ruas jalan menju tempat dengan menggunakan almamater kebanggan kampus masing-masing. Dan[pada jam 11:00 WIB massa sudah mulai memasuki kantor DPRD untuk aksi demonstrasi.[3]

Dan jujur ini baru kali kedua saya ikut aksi demo, ntah apa yang membuat hati ini menjadi tergerak. Walaupun saya datang terlambat karena ada tanggung jawab yang harus lebih dahulu diselesaikan. Sesampainya saya dilokasi massa satu persatu sudah mulai meninggalkan tempat. Tetapi dilokasi tetap ramai. Memasuki lingkungan kantor, saya menyerobot masuk dari kumpulan rekan-rekan mahasiswa untuk masuk kedalam ruangan DPRD. Iya, kantor sudah berhasil disita mahasiswa. Setelah masuk dan melihat dengan seksama saya melihat banyak sekali orang rekan-rekan mahasiswa dari mulai duduk dikursi hingga berdisi diatas meja sambil menyanyikan yang mungkin indonesia raya. Suasana panas dan pengap karena kapasitas ruangan berlebih.

Sempat saya dokumentasikan saat saya berada didalam ruangan, namun hanya sedikit yang bisa karena mengingat kapasitas penyimpanan telepon genggam saya yang tak kondusif.


Saya kecewa dengan demonstrasi hari ini, bukan karena saya datang terlambat, tapi karena kondisi demonstran yang tak lagi kondusif karena sudah mulai agresif dan anarkis. Sempat saya bertanya kepada rekan-rekan demonstran terkait dengan kebijakan dan tuntutan kita pada hari ini apakah dipenuhi. Ternyata tuntutan dari mahasiswa sudah dipenuhi oleh salah satu Wakil Dewan, malahan tuntutan sudah ditanda tangani dan langsung dikirim via pos dan menunjukkan bukti pengiriman kepada para demonstran.

Saya pikir karena tuntutan sudah dipenuhi rekan-rekan demonstran bubar dan meninggalkan lokasi, tapi apa yang terjadi mereka masuk kedalam kantor dan membuat rusuh dan anarkis, barang-barang dihancurkan, vandalisme, dan sebagiannya. Setelah mendapat jawaban tersebut dan sebelumnya sudah menanyakan ke beberapa kawan-kawan demonstran untuk kejelasan informasi agar valid, setelah didapat saya pulang dengan penuh kekecewaan.

Tuntutan sudah terpenuhi hasil tinggal menunggu. Jika tak puas dengan hasil mari diulang kembali orasi, ini tidak, malah membuat anarkis dengan penuh rasa percaya diri dan bangga.

Saya mendukung penuh untuk berdemonstrasi jika itu menuntut keadilan, menunutut aspirasi, dah hak-hak yang dirasa tak terpenuhi kepada pemerintah, tapi tidak pada anarkis. Bukannya diri ini sok suci, tapi dipikir dengan logika dan akal sehat tuntutan sudah terpenuhi dan bahkan dikirim langsung, lantas apalagi? Kenapa hati masih saja ada yang kurang, apakah demonstrasi selalu berujung anarkis dan berujung perusakan fasilitas, entahlah, mungkin kita sendiri yang dapat menilai.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Refrensi:
[1]https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt5837954be4c7a/ini-demo-demo-yang-dilarang#_ftn2
[2]https://tirto.id/daftar-pasal-kontroversial-dan-bermasalah-dalam-rkuhp-eiED
[3]Instagram: InfoSumbar

Tuesday, September 17, 2019

Setelah Ini Apalagi?


Setiap tahun baik di universitas negeri maupun swasta pasti selalu melaksanakan acara-acara besar dan salah satunya yaitu wisudah. Wisudah merupakan momen yang paling dinanti setiap mahasiswa tingkat akhir untuk menyelesaikan studinya.

Acara ini diadakan bahkan hingga sampai 4 kali yakni pada bulan maret, juli. september dan desember. Tentunya tidak selalu pada bulan-bulan tersebut, setiap kampus punya jadwalnya tersendiri. Namun di antara jadwal tersebut hanya pada bulan-bulan tertentu saja yang ramai, yakni pada bulan maret dan september, kenapa? karena merupakan jadwal akitf kuliah civitas akademika.

Nah, bertepatan dengan bulan september ini, di kampus saya sedang melaksanakan acara wisudah yang terbagi menjadi 3 hari yakni sabtu s/d senin. Dan khusus untuk wisudawan fakultas teknik dilaksanakan pada hari sabtu.

Dimanapun kampusnya fakultas teknik selalu ramai pada acara wisudah. Kekompakan, kekeluargaan sangat erat di sini karena itu lah wisudawan di arak secara heboh. Kehebohan tersebut mengundang simpatisan dari pihak keluarga wisudah yang datang. Mereka berbaris melihat arak-arakan yang dilaksanakan mahasiswa fakultas teknik. Ada yang merekam, berselfie ria dan juga melihat diam sambil menikmati arak-arakan.

Terkesan heboh, sudah pasti. Rusuh, jelas tidak. Karena ini merupakan arak-arakan kebahagiaan atas pencapaian setelah lelah berjuang dari skripsian hingga mencapai puncak penghargaan yakni diwisudah.

Ada pepatah mengatakan  Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Ntah lah, siapa nama pepatah yang mencentuskan ini tapi yang jelas bagi sebagian orang ada yang setuju dengan perihal tersebut.

Namun salah satu penulis buku Rolf Dobelli dalam bukunya yang berjudul The Art of Thinking Celarly yang mengatakan bahwasanya mindset tersebut merupakan bias pikiran yang buruk, karena kenapa? apa iya setiap kebahagiaan harus selalu dilewati keburukan dulu? Tapi ntahlah, kita semua dapat menilainya sendiri.

Tapi yang jelas pada momen wisudah ini kita pasti setuju dengan kata pepatah. Eh, tapi ada baiknya perlu diingat setelah datang kebahagiaan akan ada fase dimana kita bingung atau bahkan stuck dan berpikiran, setelah ini ngapain lagi?.

Setelah ini Apalagi? Tentunya ini merupakan pilihan hidup pribadi. Ada banyak opsi yang dapat dipilih, ntah itu menikah dulu baru kerja atau sebaliknya, bebisni, lanjut S2 atau bahkan nge-ojol. Namun yang pelan tapi pasti, fase ini akan datang dan hingga kondisi membuat diri harus segera memilih.

Saya pribadi ingin mengucapkan selamat atas gelar sarjananya para wisudawan/ti. Semoga dengan ilmu yang dituntut dapat membuat akal pikiran tidak mati setelah ini. Karena ijazah merupakan bukti bahwa diri pribadi pernah sekolah, tapi tidak untuk berpikir. Do'akan saya menyusul tahun depan. Setelah ini apalagi? Saya harap pribadi sudah memilih.


Sunday, June 2, 2019

Solo Mudik Lewat Jalur Lintas Sumatera


Celoteh Febry - Tepat 1 minggu yang lalu saya melakukan solo mudik dari padang menuju kampung halaman saya yakni tepatnya di jambi – lebih tepatnya sih, di kabupaten Batang Hari. Mudik kali ini sama seperti tahun-tahun sebelumnya saya menggunakan kendaraan roda dua kesayangan saya yang bernama sceepy – plesetan dari scoopy.

Berangkat jam 5:30 pagi atau lebih tepatnya setelah shalat subuh. Sebelumnya packing-packing sudah saya persiapkan dimalam hari. Semua saya persiapkan, apa pun itu perihal yang bersangkutan salama di perjalanan. Mulai dari hal-hal yang paling perioritas hingga barang pelengkap untuk sebagai penunjang selama diperjalanan.

Kurang lebih sekitar 10 jam perjalanan dari kota padang menuju kampung halaman. Lumayan menguras tenaga juga karena ketika siang hari jalanan terasa sangat panas sekali, ditambah juga dengan terik mata hari siang pada saat itu sedang indah-indahnya, duh, rasanya ingin saja tidur siang dikosan.

Mudik juga terasa lebih berat karena pada saat mudik saya tetap menjalankan ibadah puasa. Yah, walaupun katanya boleh tidak berpuasa selama di perjalanan. Tapi tetap niat dihati kuat untuk menjalankan puasa.

Demi tetap menjalankan ibadah puasa dan juga demi bertemu dengan keluarga tercinta dirumah. Apapun keadaannya itu saya harus tetap mudik dan tentunya beribadah, karena keluarga adalah harta yang paling berharga dan juga mengejar berkah serta ridho dari yang maha kuasa.

Di perjalanan saya selama mudik saya banyak bertemu dengan pengendara dengan plat nomor yang sama – sama-sama ber-plat nomor BH– dan tentu saja dengan arah yang sama walaupun tujuan yang berbeda. Sesama pemudik kami tak saling kenal, tetapi memainkan alunan klakson merupakan hal yang lumrah, karena sebagai tanda sapa sebagai sesama pemudik.

Ada satu kejadian sewaktu di perjalanan yang mungkin bisa dibilang paling mendebarkan karena rasanya dekat sekali dengan kematian. Pada waktu itu saya bertemu dengan pengendara labil dan tentu saja ugal-ugalan di jalan. Hampir saja pengendara tersebut bertemu malaikat izrail, tapi untung saja mungkin malaikat izrail lagi slow respon, jadi pengendara tersebut masih bisa melihat matahari esok hari.

Kronologisnya begini, jadi, pengendara tersebut ngebut dan nekat mendahului mobil truk yang ada didepannya dan kebetulan jalan didepan itu tikungan, ntah, mungkin nggak sabaran atau memang punya nyawa sembilan, ia nekat mendahului. Padahal pada saat itu benar titik buta untuk mendahului kendaraan yang ada didepan.

Dan tentu saja seperti yang bisa di tebak, dari arah berlawanan ada mobil truk lain muncul, sontak pengendara tadi  rem mendadak dan akhirnya terjatuh dari motor hingga terguling di jalan. Untung saja pengemudi truk masih sempat untuk menginjak pedal rem dan mobil masih bisa berhenti, kalo tidak, hmm, bisa langsung cod-an sama malaikat izrail.

Fyi jarak saya dari pengendara tersebut hanya beda satu motor saja, walau juga sempat terbesit di pikiran saya untuk mengikutinya. Dari kejadian tersebut saya banyak-banyak mengucap syukur karena masih belum dipertemukan sama malaikat izrail dan juga masih diberi kesempatan bertemu keluarga serta juga bisa mempublish tulisan ini.

Setelah dari kejadiaan tersebut saya jadi lebih berhati-hati dan gas tipis-tipis menuju rumah. Sambil selalu mengingat tuhan selama diperjalanan, dan juga tentunya keluarga dirumah. Dan setelah kejadian momen dramatis tersebut, kurang lebih sekitar jam 17:30 saya tiba dirumah dengan selamat – Alhamdulillah.

Buat temen-temen yang lagi dan mau mudik, safety riding, yah.



 
Foto diabadikan saat sedang beristirahat dan sampai dirumah.



Saturday, May 18, 2019

Kesialan Dibalik Keberuntungan


Hari ini tepatnya selepas maghrib di salah satu mesjid dekat tempat saya kos sedang diadakannya acara buka bersama. Sontak jiwa-jiwa anak kos sejati pengejar gratisan muncul untuk menghadiri acara tersebut.
                 
Setelah mandi dan prepare saya langsung menuju masjid untuk mengikuti acara buka bersama. Jarak dari kosan saya ke mesjid yakni kurang lebih yah, sekitar 700 meteran. Hitung-hitung olahraga yah, saya jalan kaki menuju mesjid.
                
Kira-kira berangkat dari kosan pukul 18:05 wib dan sampai di mesjid tepat 8 menit sebelum waktu berbuka puasa. Disana saya sudah bertemu dengan rekan – rekan kuliah, perantau, sekaligus pencari makan gratisan —yah, namanya juga anak kos.
                 
Kami pun mencari tempat duduk yang ada makanannya  kelihatan paling enak —walaupun sama aja sih sebenernya—  dan setelah itu  kami duduk bersebelahan sambil bercerita sambil menunggu adzan maghrib tiba. Setelah acara dibuka dan pemberian kata sambutan dari ketua panitia buka bersama dan dilanjutkan iringan adzan maghrib kami pun menyantap hidangan yang telah disediakan untuk membatalkan puasa.
                 
Setelah menyatap menu bukaan ringan dilanjutkan dengan solat maghrib. Saya pikir setelah solat maghrib acara selesai. Sontak saya buru-buru jalan pulang ke kos untuk makan nasi karena masih terasa lapar, hehe.
                 
Selang jarang kurang lebih 100 meter sampai di kos. Saya dengar pengumuman yang diumumkan melalui pengeras suara masjid bahwasanya akan dibagikan nasi bungkus.

Sontak keluar celetukan “ bangke ada nasi bungkus rupanya” sontak diri ini mau jalan balik ke mesjid lagi hanya demi dapat nasi bungkus, tapi jarak sudah nanggung sampai kos yah,sudah lanjutkan pulang ke kos. Dan saya yakinkan diri mungkin belum rezeki. Walaupun agak nyesek juga sih dikit, tapi tak apalah yang penting udah dapat gratisan diawal, hehe —dasar anak kosan.

Monday, April 15, 2019

Pengalaman Tukar Buku Rusak Di Gramedia


Kurang lebih sekitar hampir satu bulan ini saya tidak ada berkunjung ke toko buku, biasanya 4 minggu sekali saya pergi ke toko buku —eh sama aja— untuk menambah kelokesi buku bacaan saya. Minggu kemarin saya sempatkan diri untuk menyampangi salah satu toko buku yang ada di kota padang yaitu gramedia.

Dari kosan menuju toko buku gramedia kurang lebih,yah,sekitar 20 menitan lah. Sesampainya ditempat saya memakirkan kendraan saya di tempat parkir —ya iyalah tempat parkir— saya langsung melangkah masuk ke toko buku.

Tepatnya di lantai dua —tempat buku pengetahuan, ilmiah, dll— dan tiga —untuk novel dan komik— berbagai macam koleksi buku yang dijual mulai dari best seller hingga antah berantah sekalipun. Namun tetap bagi saya pribadi tetap mengapresiasi mereka para penulis yang telah berkarya melalui buku.

Saya berkeliling dari rak ke rak dari sudut ke sudut, namun ada satu karya yang memikat hati dan juga menjadi incaran saya yakni sebuah novel karya J.S. Khairen dengan judul "Kami (Bukan) Sarjana Kertas". Sebenarnya saya sudah lama mengintai di istagram penulisnya namun apa daya waktu itu tak ada niatan hati untuk meminang karyanya.

Dan sekarang tanpa fikir panjang pada saat itu juga saya pinang novel karangannya. Alasan saya meminang buku ini yakni  saya tertarik dengan testimoni dari yang sudah membacanya,  dan juga judulnya yang membuat saya tertarik karena dengan sikon saya saat ini, dan tentang perihal pertanyaan-pertanyaan yang menghantui pikiran saya, mau apa saya ketika kelak sudah jadi sarjana.

Singkat cerita telah saya kupas habis buku ini hanya berjarak 6 hari setelah pembelian, dan ketika sudah berada dibab terkahir, betapa terkejutnya saya ternyata ada beberapa halaman kosong yag terdapat didalamnya, sontak tanpa pikir panjang saya langsung bergegas untuk menukar dengan yang baru.

Sempat awalnya pesimis apakah buku ini bisa di tukarkan dengan yang baru dan juga buku ini sudah dicoret-coret, tetapi dengan bermodal keyakinan dan juga saya masih menyimpan struk pembelian saya langsung berangkat.

Setelah sampai saya langsung menuju costumer service untuk menanyakan apakah buku tadi bisa diganti dengan yang baru, mbak-mbak costumer service sempat kaget dan juga sempat memberikan pernyataan sepertinya buku ini tidak bisa di ganti karena sudah dicoret. Saya sudah pasrah waktu itu, namun mbak-mbak tadi coba menelpon ke manajernya dan ternyata, jreng-jreng, buku bisa di tukar. Dalam hati saya bersyukur ternyata buku masih bisa ditukar. Dan mbak-mbak nya tadi juga bilang kesaya untung cepat datang, karena waktu penukaran sudah hampir habis dan seperti syarat penukaran yang tertera. 

Fyi untuk penukaran buku maksimal 7 hari setelah pembelian.

Saya sadar keberuntungan masih berpihak kepada saya,hehe. Mungkin lain kali, ketika mau membeli buku lagi harus cepat-cepat di baca sampai habis agar ketahuan kalo ada halaman yang rusak atau cacat,hehe —kemarin juga nggak sempat cek dulu, karena buku masih dalam plastik saya pikir aman-aman saja.

    

Beberapa halaman buku kosong.